Sungguh ironi jika kita membentuk suatu batasan, kebiasaan atau lingkungan yang mengharuskan kita ada dalam kotak-kotak tertentu. Setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Kelas apapun yang dipilih siswa, tidak serta merta menentukan kepintaran atau kejeniusannya. Ada juga siswa bahasa yang berprestasi sesuai bidangnya. Kebudayaan yang terbentuk selama ini adalah kepintaran seseorang dilihat dari sisi sains atau bidang eksak saja. Kita ambil contoh, Einstein waktu waktu sekolah dianggap idiot, dengan kemandirian dan ketekunannya dalam mengembangkan potensi diri, akhirnya beliau bisa menjadi orang jenius.
Siswa bisa mengembangkan berbagai macam intelegensi dalam dirinya. Seperti penelitian yang dilakukan Howard Gardner bahwa ada tujuh macam intelegensi. Penelitian lanjutannya Howard Gardner menambahkan dua macam intelegensi, yaitu :
1. Naturalist Intelligence, kecerdasan ini memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
2. Spiritual Intelligence, kecerdasan yang memungkinkan anak mengetahui dan memahami penghayatan bahwa dirinya diberi begitu banyak anugerah oleh Tuhan.
3. Existential Intelligence, kecerdasan ini muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan siapa dirinya? Mengapa ia hidup? Sebuah imajinasi tentang keberadaan dirinya di dunia.
Jadi, kelas IPA, IPS atau Bahasa tidak perlu dibandingkan satu sama lainnya. Sebagai pendidik, kita dapat memfasilitasi dan memotivasi siswa untuk mengembangkan diri terus menerus. Tidak ada orang bodoh di dunia ini, tetapi orang yang tidak mau berkembang. Orang yang tekun akan mengalahkan orang yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi.
Wallahu’alam
I like it great,good knowledge i got.carry on.
ReplyDelete